Jumat, 23 November 2012

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja (kesJa)


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar perusahaan, tetapi mempunyai pengaruh atas pertumbuhan dan perkembangan perusahaan.Pada umumnya lingkungan tidak dapat dikuasai oleh perusahaan sehingga perusahaan harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja banyak sekali dari faktor internal dari karyawan maupun dari lingkungan itu sendiri.
Sekarang makin banyak lapangan pekerjaan jadi makin tinggi pula dampak dari lingkungan pekerjaan tersebut.
Faktor-faktor lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat banyak sekali, diantaranya faktor lingkungan, faktor penduduk, faktor pelayanan kesehatan serta faktor prilaku masyarakt itu sendiri.

1.2         Rumusan Masalah
Apa saja faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja serta pentingnya lingkungan untuk mempertahankan kesehatan masyarakat?

1.3         Tujuan
                    1.3.1            Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan masyarakat
                    1.3.2            Tujuan Khusus
                                                1.            Untuk mengetahui konsep lingkungan kerja.
                                                2.            Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja
                                                3.            Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi derajat masyarakat.
                                                4.            Untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja terhadap kesehatan masyarakat
                                                5.            Untuk mengetahui dampak lingkungan kerja terhadap kesehatan masyarakat

1.4         Manfaat
                       1.          Bagi mahasiswa
Untuk menambah pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja serta pentingnya lingkungan untuk mempertahankan kesehatan masyarakat.
                       2.          Bagi Institusi
Untuk menambah referensi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja serta pentingnya lingkungan untuk mempertahankan kesehatan masyarakat.
                       3.          Bagi Masyarakat
Untuk mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja serta pentingnya lingkungan untuk mempertahankan kesehatan masyarakat.














BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Konsep Lingkungan Kerja
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar perusahaan, tetapi mempunyai pengaruh atas pertumbuhan dan perkembangan perusahaan.Pada umumnya lingkungan tidak dapat dikuasai oleh perusahaan sehingga perusahaan harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Dalam pengertian lain juga disebutkan bahwa Lingkungan adalah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang. Pengertian lain juga menyebutkan lingkungan adalah segala hal yang terkait dengan operasional perusahaan dan bagaimana kegiatan operasional tersebut dapat berjalan.Lingkungan kerja yang baik akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas karyawan hal ini dapat dilihat dari peningkatan teknologi dan cara produksi, sarana dan peralatan produksi yang digunakan, tingkat keselamatan dan kesehatan kerja serta suasana  lingkungan kerja itu sendiri.
Lingkungan perusahaan adalah berbagai hal atau berbagai pihak yang terkait langsung dengan kegiatan sehari hari organisasi, dan mempengaruhi langsung terhadap setiap program, kebijakan, hingga denyut nadinya perusahaan.Lingkungan perusahaan banyak sekali sehingga sulit disebutkan satu persatu, adapun salah satu yang termasuk dalam lingkungan perusahaan adalah perundang-undangan beserta peraturan lainnya, sistem birokrasi, dan sistem nilai masyarakat.

2.2         Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja, seperti yang dikemukakan Sedarmayanti (1996:5), yaitu:
1.        Penerangan
Berjalannya suatu perusahaan tak luput dari adanya faktor penerangan, begitu pula untuk menunjang kondisi kerja penerangan memberikan arti yang sangat penting.Salah satu faktor yang penting dari lingkungan kerja yang dapat memberikan semangat dalam bekerja adalah penerangan yang baik.Karyawan yang terlibat dalam pekerjaan sepanjang hari rentan terhadap ketegangan mata yang disertai dengan keletiah mental, perasaan marah dan gangguan fisik lainnya.Dalam hal penerangan di sini tidak hanya terbatas pada penerangan listrik tetapi juga penerangan matahari. Penerangan yang baik dapat memberikan kepuasan dalam bekerja dan tentunya akan meningkatkan produktivitas, selanjutnya penerangan yang tidak baik dapat memberikan ketidak puasan dalam bekerja dan menurunkan produktivitas. Hal ini disebabkan karena penerangan yang baik tentunya akan memudahkan para karyawan dalam melakukan aktivitas.
Ciri-ciri penerangan yang baik menurut Sofyan Assauri (1993:31) adalah sebagai berikut:
a.         Sinar cahaya yang cukup.
b.         Sinarnya yang tidak berkilau dan menyilaukan.
c.         Tidak terdapat kontras yang tajam.
d.        Cahaya yang terang.
e.         Distribusi cahaya yang merata.
f.          Warna yang sesuai.

2.        Suhu Udara
Lingkungan kerja dapat dirasakan nyaman manakala ditunjang oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang memberikan andil adalah suhu udara.Suhu udara dalam ruangan kerja merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh manajemen perusahaan agar karyawan dapat bekerja dengan menggunakan seluruh kemampuan sehinggan menciptajkan hasil yang optimal.
Selain suhu udara, sirkulasi udara di tempat kerja perlu diperhatikan juga.Bila sirkulasi udara baik maka udara kotor yang ada dalam ruangan bisa diganti dengan udara yang bersih yang berasal dari luar ruangan.
Berbicara tentang kondisi udara maka ada tiga hal yang menjadi fokus perhatian yaitu kelembaban, suhu udara dan sirkulasi udara.Ketiga hal tersebut sangat berpengaruh terhadap aktivitas para pekerja.Bagaimana seorang staf administrasi dapat bekerja secara optimal bila keadaan udaranya sangat gerah. Hal tersebut akhirnya dapat menurunkan semangat kerja karena dipengaruhi oleh turunnya konsentrasi dan tingkat stress karyawan. Mengenai kelembaban, suhu udara dan sirkulasi udara dijelaskan oleh Sritomo Wignosubroto (1989:45) sebagai berikut:
a.         Kelembabab
Kelembaban udara adalah banyaknya air yang terkandung di dalam udara. Kelembaban ini sangat berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur udara. Suatu keadaan di mana temperatur udara sangat panas dan kelembaban tinggi akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran.
b.         Suhu Udara
Tubuh manusia akan selalu berusaha untuk mempertahankan keadaan normal dengan suatu sistem tubuh yang sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di luar tubuh tersebut. Produktivitas manusia akan mencapi tingkat yang paling tinggi pada temperatur sekitar 24-27ºC.
c.         Sirkulasi Udara
Udara disekitar kita dikatakan kotor apabila keadaam oksigen di dalam udara tersebut telah berkurang dan bercampur gas-gas lainnya yang membahayakan kesehatan tubuh.Hal ini diakibatkan oleh perputaran udara yang tidak normal.
Kotoran udara disekitar kita dapat dirasakan dengan sesaknya pernafasan. Ini tidak boleh dibiarkan, karena akan mempengaruhi kesehatan tubuh dan akan cepat membut tubuh kita lelah. Sirkulasi udara dengan memberikan ventilasi cukup akan membantu penggantian udara kotor dengan udara bersih.
Seperti yang diungkapkan oleh Sritomo Wignjosoebroto (1989:50) pengaruh temperatur udara terhadap manusia bisa dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.1 Pengaruh Temperatur Terhadap Aktivitas Manusia
Temperature
Pengaruh Terhadap Manusia
Kurang lebih 49ºC
Temperatur yang dapat ditahan sekitar 1 jam, tetapi jauh di atas tingkat kemampuan fisik dan mental. Lebih kurang 30ºC aktiviatas mental dan daya tanggap cenderung membuat kesalahan dalam pekerjaan. Timbul kelelahan fisik dan sebagainya
Kurang dari 30ºC
Aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun dan cenderung untuk membuat kesalahan dalam pekerjaan dan menimbulkan kelelahan fisik
Kurang lebih 24ºC
Yaitu kondisi optimum (normal) bagi manusia
Kurang dari 24ºC
Kelakuan ekstrim mulai muncul
Sumber: Sritomo Wignjosoebroto (1989:50)

3.        Bising
Untuk meningkatkan produktivitas kerja suara yang mengganggu perlu dikurangi. Di lingkungan Call Center Telkomsel suasana tenang sangat diperlukan karena pada saat officer online melayani pelanggan harus terbebas dari suara lain yang bisa terdengar oleh pelanggan. Suara bising ditimbulkan dari suara para officer yang online pada saat bersamaan dalam satu ruangan bisa mengganggu konsentrasi officer itu sendiri pada saat bekerja.
Bunyi bising dapat mengganggu konsentrasi dalam bekerja, untuk itu suara-suara ribut harus diusahakan berkurang.Turunya konsentrasi karena ditimbulkan oleh suara bising dapat berdampak pada meningkatnya stres karyawan.
Menurut Sedarmayanti (1996:26) ada tiga aspek yang menentukan kualitas suara bunyi yang bisa menimbulkan tingkat gangguan terhadap manusia, yaitu:
a.         Lama bunyi
Lama waktu bunyi terdengar. Semakin lama telinga kita mendengar kebisingan maka semakin buruk akibatnya bagi pendengaran (tuli).
b.         Intensitas kebisingan
Intensitas biasanya diukur dengan satuan desibel (dB), yang menunjukan besarnya arus energi persatuan luas dan batas pendengaran manusia mencapai 70 desibel.
c.         Frekuensi
Frekuensi suara menunjukan jumlah dari gelombang-gelombang suara yang sampai de telinga kita setiap detik yang dinyatakan dalam jumlah getaran perdetik atau Hertz (HZ).
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa telinga manusia memiliki batasan dalam pendengaran. Batas pendengaran manusia mencapai 70 desibel, jika suara yang didengar manusia melebihi batas tersebut maka konsentasi manusia akan mudah kabur. Gangguan-gangguan seperti ini hendaknya dihindari agar semangat kerja tetap stabil dan produktivitas kerja menjadi optimal.

4.        Penggunaan Warna
Warna ruangan mempunyai pengaruh terhadap gairah kerja dan semangat para karyawan.Warna ini berpengaruh terhadap kemampuan mata melihat objek dan memberi efek psikologis kepada para karyawan karena warna mempuyai pengaruh besar terhadap perasaan seseorang.Sifat dan pengaruh warna kadang-kadang menimbulkan rasa senang, ceria atau sumpek dan lain-lain.
Berdasarkan hal yang dikemukakan di atas maka perusahaan harus memperhatikan penggunaan warna agar dapat mempengaruhi semangat dan gairah kerja para karyawannya.Untuk ruang kerja hendaknya dipilih warna-warna yang dingin atau lembut, misalnya coklat, krem, putih, hijau muda dan sebagainya.Sebagai contoh adalah warna putih, warna putih dapat memberikan kesan ruangan yang sempit menjadi tampak leluasa dan bersih.
Sebenarnya bukan warna saja yang harus diperhatikan tapi komposisinya juga harus diperhatikan.Hal ini disebabkan komposisi warna yang salah dapat mengganggu pemadangan sehingga menimbulkan rasa kurang menyenangkan atau bosan bagi yang melihat.Rasa menyenangkan atau bosan dapat mempengaruhi semangat kerja karyawan.
Komposisi warna yang ideal menurut Alex S Nitisemito (1996:1120), terdiri dari:
a.         Warna primer (merah, biru, kuning).
Kalau dijajarkan tanpa antara akan tampak keras dan tidak harmonis serta tidak bisa dijajarkan dengan yang lain sehingga tidak sedap dipandang.
b.         Warna sekunder (oranye, hijau, violet).
Kalau dijajarkan akan menimbulkan kesan yang harmonis, sedap dipandang mata.
c.         Warna-warna primer jika dijajarkan dengan warna sekunder yang berada dihadapannya akan menimbulkan warna-warna komplementer yang sifatnya kontras dan baik sekali dipandang mata.
d.        Warna-warna primer jika dijajarkan dengan warna sekunder yang terdapat disampingnya akan merusak salah satu dari warna tersebut dan akan terkesan suram.
Komposisi warna sangat berpengaruh terhadap kenyamanan kerja. Bila komposisi warna kurang pas bisa menimbulkan rasa jenuh dan sumpek sehingga mengurangi kenyamanan dalam bekerja sehingga semangat kerja akan menurun yang dapat mengganggu produktivitas kerja.
Menurut Sedarmayanti (1996:29), membagi warna berdasarkan pengaruhnya terhadap perasaan manusia, yaitu:
a.         Warna merah
Bersifat dinamis dan merangsang, berpengaruh menimbulkan semangat kerja.
b.         Warna kuning
Bersifat keanggunan, terang dan leluasa.Berpengaruh menimbulkan rasa gembira dan merangsang urat syaraf mata.
c.         Warna biru
Bersifat tenang, tentram dan sejuk.Berpengaruh mengurangi tekanan dan keteganggan.

5.        Ruang Gerak
Tata ruang kerja yang baik adalah tata ruang kerja yang dapat mencegah timbulnya gangguan keamanan dan keselamatan kerja bagi semua karyawan yang bekerja di dalamnya.Barang-barang yang diperlukan dalam ruang kerja harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap para karyawan.
Jalan-jalan yang dipergunakan untuk lalu-lalang para karyawan hendaknya tidak dipergunakan untuk meletakkan barang-barang yang tidak pada tempatnya.Dalam ruangan kerja hedaknya ditempatkan tempat sampah sehingga kebersihan lingkungan kerja tetap terjaga.
Ruang kerja hendaknya di desain sedemikian rupa sehingga memberikan kesan nyaman bagi para karyawan.Untuk itu ruangan kerja harus ditata mengacu kepada aliran kerja sehingga meningkatkan efesiensi dan memudahkan koordinasi antar para karyawan. Perusahaan yang baik akan selalu menyediakan berbagai sarana yang memadai, hal ini dimaksudkan agar para karyawan merasa senang dan betah di ruangan kerja.
Menurut Sofyan Assauri mengemukakan bahwa: “Agar para karyawan dapat leluasa bergerak dengan baik, maka ruangan gerak para karyawan perlu diberikan ruangan yang memadai. Terlalu sempit ruang gerak akan menghambat proses kerja para karyawan. Sebaliknya ruangan kerja yang besar merupakan pemborosan ruangan” (Assauri, 1993:33).
Dari pendapat di atas mengenai ruang gerak yang ideal adalah ruang yang leluasa sehingga dapat membantu kelancaran kerja para karyawan. Ruangan yang sempit akan mengakibatkan lalu-lintas di tempat kerja menjadi semrawut, sehingga karyawan akan kehilangan semangat dalam bekerja. Perusahaan yang memiliki ruang kerja belum tentu mampu meningkatkan gairah para karyawannya, karena tanpa tata ruang yang baik akan menghambat proses kerja.

6.        Keamanan Bekerja
Keamanan yang diciptakan suatu perusahaan akan mewujudkan pemeliharaan karyawan dengan baik, namun keamanan bekerja ini tidak bisa diciptakan oleh pimpinan perusahaan. Keamanan bekerja akan tercipta bila semua elemen yang ada di perusahaan secara bahu-membahu menciptakan kondisi keamanan yang stabil.
Keamanan kerja untuk sebuah kantor memang harus diperhatikan baik itu untuk keamanan terhadap peralatan yang digunakan dan keamanan lingkungan kerja. Lingkungan kerja harus memenuhi syarat-syarat keamanan dari orang-orang yang berniat jahat dan ruangan kerja yang aman dari aktivitas tamu dan pergerakan umum.
Tentang keselamatan kerja ini sudah ada peraturannya, yang harus dipatuhi oleh setiap perusahaan.Artinya setiap perusahaan menyediakan alat keselamatan kerja, melatih penggunaanya.Hal ini dimaksudkan agar karyawan dapat bekerja dengan tenang dan nyaman.
Alex S Nitisemito (1996:11) berpendapat bahwa “Apabila perusahaan dapat memberikan jaminan keamanan, ketenangan dalam bekerja maka akan timbul semangat kerja dan gairah kerja”.
Pendapat mengenai keamanan bekerja di atas menggambarkan bahwa perusahaan bertanggung jawab akan kondisi karyawannya. Dorongan psikologis para karyawan dalam berkerja yang berupa rasa aman dan nyaman sangat mempengaruhi konsenntrasi dalam bekerja. Konsentrasi yang tidak mendukung akan mengakibatkan semangat dan gairah menurun sehingga mengurangi produktivitas kerja.
Syarat-syarat untuk dapat bekerja dengan perasaan tentram, aman dan nyaman mengandung dua faktor utama yaitu faktor fisik dan non fisik. Menurut Slamet Saksono berpendapat bahwa: “Segala sesuatu yang yang menyangkut faktor fisik yang menjadi menjadi kewajiban serta tanggung jawab perusahaan adalah tata ruangan kerja. Tata ruangan kerja yang baik adalah yang dapat mencegah timbulnya gangguan keamanan dan keselamatan bagi karyawan.Barang-barang yang diperlukan dalam ruang kerja harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat dihindarkan gangguan yang ditimbulkan terhadap karyawan” (Saksono, 1998:105).
Lingkungan kerja yang baik dan bersih, cahaya yang cukup, bebas dari kebisingan dan gangguan diharapkan akan memberi semangat tersendiri bagi karyawan dalam melakukan pekerjaan dengan baik. Tetapi lingkungan kerja yang buruk, gelap dan lembab akan menimbulkan cepat lelah dan menurunkan semangat dan produktivitas dalam bekerja.

2.3         Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Derajat Masyarakat








Dari skema yang digambarkan oleh Blum, maka dapat dijelaskan bahwa kesehatan manusia terdiri dari 3 dimensi yaitu : fisik, mental dan sosial. Ketiga dimensi di atas bersifat integrative, artinya ketika salah satu dimensi di atas tidak dimiliki oleh seseorang maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sehat sepenuhnya. Dari paparan di atas maka Blum menyatakan bahwa derajat kesehatan seseorang / masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu ;
1.      Environment (lingkungan).
Lingkungan ini meliputi lingkungan fisik (baik natural atau buatan manusia), dan sosiokultur (ekonomi, pendidikan, pekerjaan dll). Pada lingkungan fisik, kesehatan akan dipengaruhi oleh kualitas sanitasi lingkungan dimana manusia itu berada. Hal ini dikarenakan banyak penyakit yang bersumber dari buruknya kualitas sanitasi lingkungan, misalnya ; ketersediaan air bersih pada suatu daerah akan mempengaruhi derajat kesehatan  karena air merupakan kebutuhan pokok manusia dan manusia selalu berinteraksi dengan air dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan lingkungan sosial berkaitan dengan kondisi perekonomian suatu masyarakat. Semakin miskin individu/masyarakat maka akses untuk mendapatkan derajat kesehatan yang baik maka akan semakin sulit. Contohnya : manusia membutuhkan makanan dengan gizi seimbang untuk mejaga kelangsungan hidup, jika individu/masyarakat berada pada garis kemiskinan maka akan sulit untuk memenuhi kebutuhan makanan dengan gizi seimbang. Demikian juga dengan tingkat pendidikan individu/masyarakat, semakin tinggi tingkat pendidikan individu/masyarakat maka pengetahuan untuk hidup sehat akan semakin baik. Kondisi
2.    Live Style
Gaya hidup individu/masyarakat sangat mempengaruhi derajat kesehatan.Contohnya : dalam masyarakat yang mengalami transisi dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, akan terjadi perubahan gaya hidup pada masyarakat tersebut yang akan mempengaruhi derajat kesehatan. Misalnya ; pada masyarakat tradisonal dimana sarana transportasi masih sangat minim maka masyarakat terbiasa berjalan kaki dalam beraktivitas, sehingga individu/masyarakat senantiasa menggerakkan anggota tubuhnya (berolah raga). Pada masyarakat modern dimana sarana transportasi sudah semakin maju, maka individu/masyarakat terbiasa beraktivitas dengan menggunakan transportasi seperti kendaraan bermotor sehingga individu/masyarakat kurang menggerakkan anggota tubunya (berolah raga).Kondisi ini dapat beresiko mengakibatkan obesitas pada masyarakat modern karena kurang berolah raga ditambah lagi kebiasaan masyarakat modern mengkonsumsi makanan cepat saji yang kurang mengandung serat.  Fakta di atas akan mengakibatkan transisi epidemiologis dari penyakit menular ke penyakit degeneratif.
3.    Heredity
Faktor genetic ini sangat berpengaruh pada derajat kesehatan.Hal ini karena ada beberapa penyakit yang diturunkan lewat genetic, seperti leukemia.Faktor hereditas sulit untuk diintervensi karena hal ini merupakan bawaan dari lahir dan jika dapat diintervensi maka harga yang dibayar sangat mahal.
4.    Health Care Sevices
Pelayanan kesehatan juga mempengaruhi derajat kesehatan.Pelayanan kesehatan disini adalah pelayanan kesehatan yang paripurna dan intregatif antara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Semakin mudah akses individu/masyarakat terhadap pelayanan kesehatan maka derajat kesehatan masyarakat akan semakin baik.

2.4         Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kesehatan Masyarakat
Lingkungan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kesehatan masyarakat. Sebagian besar gangguan kesehatan disebabkan kondisi lingkungan  dan perilaku masyarakat. Pengaruh lingkungan terhadap kesehatan mengakibatkan gangguan kesehatan yang bersifat segera dan bersifat lambat atau akumulatif.



2.5     Dampak Lingkungan Kerja terhadap Kesehatan Masyarakat
1.  Water Borne Disease dan Food Borne Disease
Bibit penyakit yang berada dalam air atau makanan dan masuk kedalam pencernakan makanan manusia.Contoh : kolera, typhus, disentri, hepatitis infectiosa, polio myelitis.
2.    Water Washed Disease
       Air yang digunakan dalam jumlah terbatas untuk cuci dan mandi yang mengandung mikroba penyebab penyaki, contoh : skinsepsis, conjungtivitis, trachoma.
3.    Water Based Disease
       Mikroba atau parasit dari penyakit-penyakit ini siklus hidupnya mempunyai intermediate host yang hidup di air, contoh : schistosomiasis.
4.        Insect Borne disease
Penyakit ini ditularkan oleh serangga yang membawa bibit penyakit dan serangga tersebut hidup di air,  contoh : malaria, filariasis, demam berdarah.
5.        Food intoxication, keracunan makanan oleh karena toxin yang dikeluarkan oleh mikroba.
6.        Food poisoning, keracunan makanan yang disebabkan kandungan logam, zat organic, hewan dan tumbuhan beracun. Contoh : Pb, Hg, As, Pestisida, Kerang-kerangan, jamur.
7.        Keracunan Gas, menghirup udara yang mengandung racun dalam bentuk gas, contoh : HCn, Co, So.
8.        Cacingan , diperoleh dari pengelola tanah, kompos, dan sayuran, contoh : ascariasis, Taeniasis, Trichinosis, Achilostomiasis.
9.        Air Borne disease, kuman penyakit masuk melalui saluran pernafasan manusia melalui udara,  contoh : Tbc, Pertusis, Dipteri, influenza.
10.    Pneumokoniosis, Penimbunan debu dalam Paru- paru, contoh ; silikosis, asbestosis.
11.    Penyakit akibat kerja fisik, contoh : Tuli, kelainan sel, heat stoke dll.

2.6     PencegahanDampak Akibat Lingkungan Kerja
Dengan pengawasan lingkungan maka akan dapat mencegah penyakit penyakit yang ditimbulkan oleh lingkungan. Program di puskesmas dalam rangka pencegahan penyakit yang ditimbulkan oleh dampak lingkungan di masyarakat adalah program  RAKSA SEHAT yaitu: Rumah , Air bersih, Kakus , Sampah, Air Limbah  yang sehat
A.  Rumah :   syarat rumah sehat :
1.  Tersedia air bersih, kakus(jamban), saluran air limbah, tempat sampah.
2. Tidak padat penghuni   , Luas minimal  9 m2 setiap orang.
3. Ada sirkulasi udara ( jendela /lubang angin)  dan cahaya matahari masuk rumah.
4.  Ada lubang asap dapur
5.  Tidak terdapat vector penyakit ( jentik nyamuk, kecoa dan tikus )
6.  Dinding dan lantai kedap air
7.  Kandang ternak terpisah ( min 10 m dari rumah )
Penyakit yang timbul dari rumah yang tidak sehat : TBC, ISPA,Kulit, Cacingan dll.
B.  Air Bersih
Air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kwalitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak
Syarat :
1.      Syarat fisik : Tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau.
2.      Syarat kimia : Tidak mengandung zat-zat kimia yang `mengganggu kesehatan.
3.      Syarat Bakteriologi : Tidak mengandung kuman yang mengganggu kesehatan
Penyakit yang timbul dari air yang tidak sehat : Diare, muntaber, penyakit kulit, sakit mata
C.   Kakus
Kakus / jamban yang sehat :
1.      Tidak menjadi sarang serangga : lalat, kecoa, nyamuk.
2.      Jarak minimal 11 meter dari sumur.
3.      Bersih, tidak ada kotoran dan genangan air di lantai , tidak berbau.
Penyakit yang timbul dari kakus  yang tidak sehat : Diare, muntaber, penyakit kulit,
D.   Sampah,  syarat:
1.   Tertutup.
2.   Tempat sampah kedap air.
3.   Tidak menjadi sarang binatang (tikus) dan serangga : lalat, kecoa, nyamuk.
E.   Air limbah :
1.   Tidak mencemari sumur.
2.   Tidak menjadi sarang binatang (tikus) dan serangga : lalat, kecoa, nyamuk.
3.   Tidak menyebabkan kecelakaan / harus tertutup.
4.   Tidak menggangu pemandangan.
Penyakit yang timbul dari air limbah yang tidak sehat : Diare, muntaber, penyakit kulit,terjatuh/terpeleset.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar